[3rd Trilogy] Ketika Setiap Orang Besar…
June 11th, 2008 by wayanKetika Setiap Orang Besar dalam Tugasnya Masing-Masing…
Akhirnya dengan sepenuh rasa cinta dan desakan kuat dari sahabat-sahabat terdekat serta dari orang tercinta (thanks my dearest Tari – you’re always my inspiration), Trilogi Ketiga – alias terakhir setelah dua trilogy sebelumnya dengan tema “BERSYUKUR dan BERBAGI CINTA”, trilogy BEKERJA ini dimulai dengan sebuah kutipan yang sangat indah menurut saya… ”Jika Ingin Bertemu Tuhan, Bekerjalah…!”
Dalam berbagai kesempatan bertemu teman, sahabat, rekan kerja, tetangga, dimanapun, kadang selalu dan bahkan sering sekali muncul keluhan, curhatan, komplain tentang yang namanya kerjaan, pekerjaan, dan atau bekerja. Mulai dari…rasa capek, sibuk, berangkat pagi – pulang malam, bosan, malas, senang, berantem, dimarahi, gaji kurang, karir gak jelas, boss otoriter, kantor jauh… dan bla…bla..bla…mewarnai tema kerja ini. Padahal kalau kita pikirkan lebih dalam, cobalah tanyakan pertanyaan sederhana ini ke diri sendiri …”Siapa sebenarnya yang menyuruh kita bekerja????
Bukankah kita manusia (alias mahluk paling sempurna) dalam menjalani hidup ini banyak sekali pilihan dalam memilih jenis pekerjaan???? atau bahkan memilih untuk tidak bekerja????? Siapa bilang harus bekerja menjadi pegawai kantoran dengan ber-kemeja bersih, berdasi, dengan ruangan ber-AC sejuk? Siapa juga yang men-dewakan menjadi PNS dengan “uang siluman” yang banyak dan gengsi yang selangit??? Siapa juga yang bilang kita harus menjadi pengusaha dengan berbagai kehidupan glamour dan kesibukan yang demikian padat? Siapa yang bilang menjadi petani sayuran, petani kopi, pedagang kelontong, guru, dan pemulung itu kurang bergengsi??? atau bahkan ada yang ingin menjadi artis dan pemain sinetron, atau pemain band biar mudah beken dan terkenal???
Berbagai macam pilihan pekerjaan sesuai dengan minat dan kesenangan kita telah disediakan dan tersedia menunggu kita sendiri untuk memilih dan menentukan bidang dan profesi apa yang akan kita lakukan dan menjalani nya sepanjang hidup kita kedepan. Baik itu untuk diri sendiri, keluarga, sahabat dan pada akhirnya semua didedikasikan kepada TUHAN…Sekali lagi, “Jika ingin bertemu Tuhan, maka BEKERJALAH!
Pengabdian kepada TUHAN harusnya menjadi dasar dari setiap pilihan kita dalam bekerja. TUHAN tidak tidur kok, DIA tahu apa yang terbaik buat setiap orang. Janganlah pernah men-dedikasikan diri hanya kepada hasil dan materi dari pekerjaan, karena ini sifatnya hanya akan sementara. Bekerjalah karena kita sayang akan TUHAN dan mengabdikan sepenuhnya hasil pekerjaan kepada yang satu TUHAN. Niscaya, percaya atau tidak, hidup kita akan jauh lebih indah mengalir damai dalam setiap hari langkah kita dalam bekerja… “Live your best life” [Quote from my dear Tari]
Pernah di suatu kesempatan diberikan berkah untuk bisa ngobrol dan cerita-cerita dengan berbagai profesi pekerjaan, seperti petani sayur di Bandung, tukang parkir di kampus, satpam di kantor, sopir taksi, teman arsitek yang sukses, pengusaha muda, artis sinetron, pemain band, manager di sebuah bank asing, dan bahkan dengan pemulung.
Berbagai macam reaksi terlontar dari pembicaraan santai ini. Bayangan awal bahwa profesi yang ‘mentereng’ selalu memberikan kebahagiaan dan ketenangan, sementara profesi ‘kotor’ memberikan kesusahan dan ketidakbahagiaan, ternyata SALAH BESAR…wowwww… Ternyata setiap profesi memiliki kebahagiaan nya masing-masing, dan itu sangat TIDAK tergantung dari “jumlah uang” yang kita terima. Misalnya, seorang petani sayur pernah bercerita, bahwa dia sangat bahagia dengan profesi nya sekarang, karena dia bisa menikmati banyak waktu bersama keluarga, dimana hal ini sangat mahal harga nya untuk profesi lain. Dia menambahkan, bahwa dia sama sekali tidak tertarik menjalani profesi pekerjaan lain dimana pilihan ini akan membuat dia menjadi tidak punya waktu buat keluarga, dan atau bahkan membuat dia pulang kerja selalu malam, dan mungkin diakhiri dengan perasaan pusing dan capek… dan bahkan malah marah-marah begitu sampai di rumah… It’s so REAL? Pekerjaan dan Kebahagiaan…sebuah kombinasi yang menarik…!
BEKERJA adalah kegiatan paling mendasar dalam kita menjalani kehidupan, yang kalau kita telusuri lebih jauh dalam konsep Hindu disebut Karma Yoga. Dikatakan dengan indah bahwa “Jika orang tak bekerja, dia akan kehilangan kreasi”, dimana pada dasarnya bekerja ini adalah sembahyang dan pengabdian kepada TUHAN. Dengan bekerja kita umat manusia akan dapat bertemu dengan Tuhan. Bagaimana korelasi ini bisa dipahami dengan jernih…?
Tuhan menciptakan dunia ini berdasarkan kerja (kredo). Setelah dunia tercipta, Tuhan meleburkan diri-NYA pada kerja itu. Jika manusia ingin bertemu dengan Tuhan, maka bekerjalah. Dikatakan bahwa sedetik pun Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Jika berhenti, dunia ini akan pralaya (kiamat). Tuhan tidak tidur, beliau selalu dengan penuh cinta dan kasih menjiwai masuk kedalam setiap pekerjaan…apapun profesi umat-NYA dalam keseharian perjalanan hidup ini.
Oleh karena maka bekerja itu merupakan ibadah, semua bentuk kerja mesti diabdikan kepada Tuhan. PEKERJAAN APAPUN itu — kasar, setengah kasar, setengah halus dan halus — mesti diabdikan kepada Beliau. Karena itu, sesungguhnya kita tidak mengenal perbedaan kerja. Apa pun pekerjaan jika dilandasi niat dharma, itulah amanat suci yang mesti dijalankan. ”Jadi, secara psikologis Beliau tidak membeda-bedakan kerja. Bekerja itu bebas dari tekanan atau beban, karena dasarnya adalah cinta, bakti dan tulus…” Simple sekali bukan?…Lakukan dan jalani setiap pekerjaan dengan penuh semangat dan penuh cinta, karena dengan itu, kita manusia sudah setidaknya sudah melakukan kegiatan dasar rasa bakti kita kepada TUHAN.
Dengan BEKERJA otomatis kesejahteraan Tuhan akan datang dengan sendirinya, sekali lagi dengan sendirinya…!! Tuhan itu ada dan menjiwai setiap pekerjaan. Ini terkait dengan hukum karma atau hukum sebab akibat. Ada aksi ada reaksi. Setiap kerja, cepat atau lambat, pasti ada hasil atau pahala. Tetapi, apa bentuk pahala nya, ini sangat ditentukan oleh kerja/karma yang diperbuat. Berbuat baik, tentu baik hasilnya. Berbuat buruk, pahala yang akan diterima tentu buruk pula. Sifat karma ini ada yang langsung kita terima, kita terima beberapa tahun kemudian, atau bahkan dalam kelahiran kita selanjutnya. Untuk itu, penjiwaan dalam pekerjaan mesti selalu atas dasar kebaikan dan jalan yang benar, karena ini merupakan investasi spiritual!. Makin banyak berbuat kebajikan, maka hasilnya akan makin bagus. APAPUN benih yang kita tanam, maka hasil buah yang akan kita petik kemudian adalah cerminan dari apa yang sudah kita tanam! Ini hukum alam yang sudah baku dan natural!
Soal pahala yang akan diterima umat, semuanya itu menjadi rahasia Tuhan sepenuhnya. Lahir, hidup, mati, jodoh, rezeki, pangkat (jabatan), karir ada di tangan Tuhan. Yang menjadi kewajiban kita sebagai manusia hanyalah adalah BEKERJA…BEKERJA…dan BEKERJA dengan BAIK, SEMANGAT, dan TULUS. Bekerja dengan niat tulus dan menjiwai penuh setiap profesi pekerjaan yang kita pilih adalah pengabdian dan penyerahan diri secara penuh kepada Tuhan, adalah WAJIB hukumnya.
Terkait dengan itu, dalam Bhagavad Gita, sloka II ayat 47 menuliskan dengan jernih, bahwa, ”Karmane eva dhikaraste mapa lesu kadacana makarma hetobhur matesango stua akarmane” yang artinya kira-kira adalah “Tugasmu sebagai manusia bekerja dan mengabdi, bukan untuk menentukan hasil. Jangan kau bekerja untuk mengikatkan diri dengan hasil. Jangan pula tidak berbuat apa-apa, karena tidak mengharapkan apa-apa”. Sebuah tulisan yang sangat indah dan bermakna sekali…
Sekali lagi saya kutipkan…
“Tugasmu sebagai manusia bekerja dan mengabdi, bukan untuk menentukan hasil. Jangan kau bekerja untuk mengikatkan diri dengan hasil. Jangan pula tidak berbuat apa-apa, karena tidak mengharapkan apa-apa”.
Setiap manusia harus bekerja. Pekerjaan apa saja, yang penting halal dan dalam jalur yang benar tanpa melanggar nilai-nilai dharma (kebenaran) -saya yakin sekali semua agama mengajarkan nilai-nilai yang sama tentang kebenaran dan kebajikan ini-. Apalagi jika kita memilih pekerjaan hanya karena faktor gengsi, maka ini akan menjerat dan menjebak kita untuk melakukan nya dengan nilai-nilai yang tidak benar.
Ingatlah selalu bahwa bekerja itu salah satu cara kita untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, dan dalam kerja itu sendiri sesungguhnya ada Tuhan. Jadi untuk apa kita membanggakan salah satu profesi pekerjaan, tetapi melakukan segala usaha dalam bekerja itu dengan cara tidak benar. Bukan kah TUHAN ada dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan????? Sungguh tidak bijaksana jika kita melakukan pekerjaan dengan hati yang malas, benci, tidak benar, culas, curang, bla..bla..bla, tepat di hadapan TUHAN????
Terkait dengan pekerjaan, kita mesti tidak membeda-bedakan kerja, sebab bekerja dalam sektor dan bidang apa saja sama kedudukannya di mata TUHAN. Misalnya, bekerja sebagai petani mesti dipandang sebagai swadharma (pengabdian suci) yang sangat mulia. Dengan menghasilkan produk pertanian, petani sudah melakukan kewajiban yang baik karena telah memberi sumber energi — protein, karbohidrat, dan vitamin kepada semua umat manusia termasuk kepada pejabat, pengusaha, didalamnya.
Tanpa petani, bisa dibayangkan dari mana masyarakat mendapatkan beras, umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-buahan dan daging.
Demikian juga dengan profesi pemulung, coba dibayangkan kalau tidak ada orang yang mau melakukan profesi pemungut sampah ini, berapa tinggi tumpukan sampah akan mengundang bibit penyakit ada disekitar kita.
Profesi pengusaha juga demikian, sangatlah mulia jika dilakukan dengan nilai dharma. Pekerjaan ini membukakan peluang demikian besar bagi banyak umat manusia lain untuk bisa bekerja dan akhirnya memperoleh penghasilan untuk menghidupi keluarga.
Demikian seterusnya untuk pekerjaan-pekerjaan lain yang sangat dicintai TUHAN, seperti tukang parkir, satpam, sopir taxi, pedagang sayur, petugas listrik, PNS, dan sebagai nya, karena semua nya memiliki PERAN dan FUNGSI nya masing-masing dalam menjalankan skenario kehidupan.
Setiap ORANG BESAR dalam tugas nya masing-masing…
Semua nya seperti bagian penting suatu SISTEM dan memiliki peran nya yang sudah ditetapkan oleh TUHAN dalam ikut memutar perjalanan BUMI ini. Jangan pernah sedikitpun menyia-nyiakan setiap fungsi dan profesi setiap manusia dalam peran pekerjaan nya di kehidupan kita sehari-hari dalam ikut mendukung, menjalani, dan menikmati kehidupan yang indah ini…
Kita semua ada karena mereka ada… Kita ada karena TUHAN juga ikut ada dan bekerja untuk kita…
Jiwai dan lakukan setiap pekerjaan dengan hati yang bersih…sebagai cara kita untuk bertemu dan mengabdi kepada TUHAN…
Semoga terinspirasi…dan selamat bekerja!!
Marriot Surabaya
12/06/08