[3rd Trilogy] Ketika Setiap Orang Besar…

June 11th, 2008 by wayan

Ketika Setiap Orang Besar dalam Tugasnya Masing-Masing…

Akhirnya dengan sepenuh rasa cinta dan desakan kuat dari sahabat-sahabat terdekat serta dari orang tercinta (thanks my dearest Tari – you’re always my inspiration), Trilogi Ketiga – alias terakhir setelah dua trilogy sebelumnya dengan tema “BERSYUKUR dan BERBAGI CINTA”, trilogy BEKERJA ini dimulai dengan sebuah kutipan yang sangat indah menurut saya… ”Jika Ingin Bertemu Tuhan, Bekerjalah…!”

Dalam berbagai kesempatan bertemu teman, sahabat, rekan kerja, tetangga, dimanapun, kadang selalu dan bahkan sering sekali muncul keluhan, curhatan, komplain tentang yang namanya kerjaan, pekerjaan, dan atau bekerja. Mulai dari…rasa capek, sibuk, berangkat pagi – pulang malam, bosan, malas, senang, berantem, dimarahi, gaji kurang, karir gak jelas, boss otoriter, kantor jauh… dan bla…bla..bla…mewarnai tema kerja ini. Padahal kalau kita pikirkan lebih dalam, cobalah tanyakan pertanyaan sederhana ini ke diri sendiri …”Siapa sebenarnya yang menyuruh kita bekerja????

Bukankah kita manusia (alias mahluk paling sempurna) dalam menjalani hidup ini banyak sekali pilihan dalam memilih jenis pekerjaan???? atau bahkan memilih untuk tidak bekerja????? Siapa bilang harus bekerja menjadi pegawai kantoran dengan ber-kemeja bersih, berdasi, dengan ruangan ber-AC sejuk? Siapa juga yang men-dewakan menjadi PNS dengan “uang siluman” yang banyak dan gengsi yang selangit??? Siapa juga yang bilang kita harus menjadi pengusaha dengan berbagai kehidupan glamour dan kesibukan yang demikian padat? Siapa yang bilang menjadi petani sayuran, petani kopi, pedagang kelontong, guru, dan pemulung itu kurang bergengsi??? atau bahkan ada yang ingin menjadi artis dan pemain sinetron, atau pemain band biar mudah beken dan terkenal???

Berbagai macam pilihan pekerjaan sesuai dengan minat dan kesenangan kita telah disediakan dan tersedia menunggu kita sendiri untuk memilih dan menentukan bidang dan profesi apa yang akan kita lakukan dan menjalani nya sepanjang hidup kita kedepan. Baik itu untuk diri sendiri, keluarga, sahabat dan pada akhirnya semua didedikasikan kepada TUHAN…Sekali lagi, “Jika ingin bertemu Tuhan, maka BEKERJALAH!

Pengabdian kepada TUHAN harusnya menjadi dasar dari setiap pilihan kita dalam bekerja. TUHAN tidak tidur kok, DIA tahu apa yang terbaik buat setiap orang. Janganlah pernah men-dedikasikan diri hanya kepada hasil dan materi dari pekerjaan, karena ini sifatnya hanya akan sementara. Bekerjalah karena kita sayang akan TUHAN dan mengabdikan sepenuhnya hasil pekerjaan kepada yang satu TUHAN. Niscaya, percaya atau tidak, hidup kita akan jauh lebih indah mengalir damai dalam setiap hari langkah kita dalam bekerja… “Live your best life” [Quote from my dear Tari]

Pernah di suatu kesempatan diberikan berkah untuk bisa ngobrol dan cerita-cerita dengan berbagai profesi pekerjaan, seperti petani sayur di Bandung, tukang parkir di kampus, satpam di kantor, sopir taksi, teman arsitek yang sukses, pengusaha muda, artis sinetron, pemain band, manager di sebuah bank asing, dan bahkan dengan pemulung.

Berbagai macam reaksi terlontar dari pembicaraan santai ini. Bayangan awal bahwa profesi yang ‘mentereng’ selalu memberikan kebahagiaan dan ketenangan, sementara profesi ‘kotor’ memberikan kesusahan dan ketidakbahagiaan, ternyata SALAH BESAR…wowwww… Ternyata setiap profesi memiliki kebahagiaan nya masing-masing, dan itu sangat TIDAK tergantung dari “jumlah uang” yang kita terima. Misalnya, seorang petani sayur pernah bercerita, bahwa dia sangat bahagia dengan profesi nya sekarang, karena dia bisa menikmati banyak waktu bersama keluarga, dimana hal ini sangat mahal harga nya untuk profesi lain. Dia menambahkan, bahwa dia sama sekali tidak tertarik menjalani profesi pekerjaan lain dimana pilihan ini akan membuat dia menjadi tidak punya waktu buat keluarga, dan atau bahkan membuat dia pulang kerja selalu malam, dan mungkin diakhiri dengan perasaan pusing dan capek… dan bahkan malah marah-marah begitu sampai di rumah… It’s so REAL? Pekerjaan dan Kebahagiaan…sebuah kombinasi yang menarik…!

BEKERJA adalah kegiatan paling mendasar dalam kita menjalani kehidupan, yang kalau kita telusuri lebih jauh dalam konsep Hindu disebut Karma Yoga. Dikatakan dengan indah bahwa “Jika orang tak bekerja, dia akan kehilangan kreasi”, dimana pada dasarnya bekerja ini adalah sembahyang dan pengabdian kepada TUHAN. Dengan bekerja kita umat manusia akan dapat bertemu dengan Tuhan. Bagaimana korelasi ini bisa dipahami dengan jernih…?

Tuhan menciptakan dunia ini berdasarkan kerja (kredo). Setelah dunia tercipta, Tuhan meleburkan diri-NYA pada kerja itu. Jika manusia ingin bertemu dengan Tuhan, maka bekerjalah. Dikatakan bahwa sedetik pun Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Jika berhenti, dunia ini akan pralaya (kiamat). Tuhan tidak tidur, beliau selalu dengan penuh cinta dan kasih menjiwai masuk kedalam setiap pekerjaan…apapun profesi umat-NYA dalam keseharian perjalanan hidup ini.

Oleh karena maka bekerja itu merupakan ibadah, semua bentuk kerja mesti diabdikan kepada Tuhan. PEKERJAAN APAPUN itu — kasar, setengah kasar, setengah halus dan halus — mesti diabdikan kepada Beliau. Karena itu, sesungguhnya kita tidak mengenal perbedaan kerja. Apa pun pekerjaan jika dilandasi niat dharma, itulah amanat suci yang mesti dijalankan. ”Jadi, secara psikologis Beliau tidak membeda-bedakan kerja. Bekerja itu bebas dari tekanan atau beban, karena dasarnya adalah cinta, bakti dan tulus…” Simple sekali bukan?…Lakukan dan jalani setiap pekerjaan dengan penuh semangat dan penuh cinta, karena dengan itu, kita manusia sudah setidaknya sudah melakukan kegiatan dasar rasa bakti kita kepada TUHAN.

Dengan BEKERJA otomatis kesejahteraan Tuhan akan datang dengan sendirinya, sekali lagi dengan sendirinya…!! Tuhan itu ada dan menjiwai setiap pekerjaan. Ini terkait dengan hukum karma atau hukum sebab akibat. Ada aksi ada reaksi. Setiap kerja, cepat atau lambat, pasti ada hasil atau pahala. Tetapi, apa bentuk pahala nya, ini sangat ditentukan oleh kerja/karma yang diperbuat. Berbuat baik, tentu baik hasilnya. Berbuat buruk, pahala yang akan diterima tentu buruk pula. Sifat karma ini ada yang langsung kita terima, kita terima beberapa tahun kemudian, atau bahkan dalam kelahiran kita selanjutnya. Untuk itu, penjiwaan dalam pekerjaan mesti selalu atas dasar kebaikan dan jalan yang benar, karena ini merupakan investasi spiritual!. Makin banyak berbuat kebajikan, maka hasilnya akan makin bagus. APAPUN benih yang kita tanam, maka hasil buah yang akan kita petik kemudian adalah cerminan dari apa yang sudah kita tanam! Ini hukum alam yang sudah baku dan natural!

Soal pahala yang akan diterima umat, semuanya itu menjadi rahasia Tuhan sepenuhnya. Lahir, hidup, mati, jodoh, rezeki, pangkat (jabatan), karir ada di tangan Tuhan. Yang menjadi kewajiban kita sebagai manusia hanyalah adalah BEKERJA…BEKERJA…dan BEKERJA dengan BAIK, SEMANGAT, dan TULUS. Bekerja dengan niat tulus dan menjiwai penuh setiap profesi pekerjaan yang kita pilih adalah pengabdian dan penyerahan diri secara penuh kepada Tuhan, adalah WAJIB hukumnya.

Terkait dengan itu, dalam Bhagavad Gita, sloka II ayat 47 menuliskan dengan jernih, bahwa, ”Karmane eva dhikaraste mapa lesu kadacana makarma hetobhur matesango stua akarmane” yang artinya kira-kira adalah “Tugasmu sebagai manusia bekerja dan mengabdi, bukan untuk menentukan hasil. Jangan kau bekerja untuk mengikatkan diri dengan hasil. Jangan pula tidak berbuat apa-apa, karena tidak mengharapkan apa-apa”. Sebuah tulisan yang sangat indah dan bermakna sekali…

Sekali lagi saya kutipkan…

“Tugasmu sebagai manusia bekerja dan mengabdi, bukan untuk menentukan hasil. Jangan kau bekerja untuk mengikatkan diri dengan hasil. Jangan pula tidak berbuat apa-apa, karena tidak mengharapkan apa-apa”.

Setiap manusia harus bekerja. Pekerjaan apa saja, yang penting halal dan dalam jalur yang benar tanpa melanggar nilai-nilai dharma (kebenaran) -saya yakin sekali semua agama mengajarkan nilai-nilai yang sama tentang kebenaran dan kebajikan ini-. Apalagi jika kita memilih pekerjaan hanya karena faktor gengsi, maka ini akan menjerat dan menjebak kita untuk melakukan nya dengan nilai-nilai yang tidak benar.

Ingatlah selalu bahwa bekerja itu salah satu cara kita untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, dan dalam kerja itu sendiri sesungguhnya ada Tuhan. Jadi untuk apa kita membanggakan salah satu profesi pekerjaan, tetapi melakukan segala usaha dalam bekerja itu dengan cara tidak benar. Bukan kah TUHAN ada dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan????? Sungguh tidak bijaksana jika kita melakukan pekerjaan dengan hati yang malas, benci, tidak benar, culas, curang, bla..bla..bla, tepat di hadapan TUHAN????

Terkait dengan pekerjaan, kita mesti tidak membeda-bedakan kerja, sebab bekerja dalam sektor dan bidang apa saja sama kedudukannya di mata TUHAN. Misalnya, bekerja sebagai petani mesti dipandang sebagai swadharma (pengabdian suci) yang sangat mulia. Dengan menghasilkan produk pertanian, petani sudah melakukan kewajiban yang baik karena telah memberi sumber energi — protein, karbohidrat, dan vitamin kepada semua umat manusia termasuk kepada pejabat, pengusaha, didalamnya.

Tanpa petani, bisa dibayangkan dari mana masyarakat mendapatkan beras, umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-buahan dan daging.

Demikian juga dengan profesi pemulung, coba dibayangkan kalau tidak ada orang yang mau melakukan profesi pemungut sampah ini, berapa tinggi tumpukan sampah akan mengundang bibit penyakit ada disekitar kita.

Profesi pengusaha juga demikian, sangatlah mulia jika dilakukan dengan nilai dharma. Pekerjaan ini membukakan peluang demikian besar bagi banyak umat manusia lain untuk bisa bekerja dan akhirnya memperoleh penghasilan untuk menghidupi keluarga.

Demikian seterusnya untuk pekerjaan-pekerjaan lain yang sangat dicintai TUHAN, seperti tukang parkir, satpam, sopir taxi, pedagang sayur, petugas listrik, PNS, dan sebagai nya, karena semua nya memiliki PERAN dan FUNGSI nya masing-masing dalam menjalankan skenario kehidupan.

Setiap ORANG BESAR dalam tugas nya masing-masing

Semua nya seperti bagian penting suatu SISTEM dan memiliki peran nya yang sudah ditetapkan oleh TUHAN dalam ikut memutar perjalanan BUMI ini. Jangan pernah sedikitpun menyia-nyiakan setiap fungsi dan profesi setiap manusia dalam peran pekerjaan nya di kehidupan kita sehari-hari dalam ikut mendukung, menjalani, dan menikmati kehidupan yang indah ini…

Kita semua ada karena mereka ada… Kita ada karena TUHAN juga ikut ada dan bekerja untuk kita…

Jiwai dan lakukan setiap pekerjaan dengan hati yang bersih…sebagai cara kita untuk bertemu dan mengabdi kepada TUHAN…

Semoga terinspirasi…dan selamat bekerja!!

Marriot Surabaya

12/06/08

…WANITA…

January 10th, 2008 by wayan

Wanita setiap saat dan setiap masa selalu menjadi ‘topik’ yang menarik untuk ditulis dan dibahas. Sudah banyak kisah, model, dan cerita tentang ‘wanita’ ini menjadi inspirasi sentral dalam lukisan, puisi, lagu, film, buku, berita, sampai ke acara televisi…

Gencar nya berita dalam tahun ini tentang kasus perceraian, kisah putus cinta, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), kekerasan terhadap Tenaga Kerja Wanita, pemerkosaan, antrian minyak tanah ibu-ibu RT, jatah wanita di parlemen, konser MAMAmia, kisah penerima Nobel Amartya Sen, terbunuhnya Benazir Butto, bahkan sampai dengan kampanye calon president wanita USA Hillary Clinton, menempatkan beragam wanita dalam beragam ‘topik’ dan ‘posisi’ yang berbeda-beda…

Jadi seperti apa sejatinya posisi WANITA ini?…

Iseng, sempat melihat lebih jauh “kedalam”, dan ternyata ini sudah tersirat dan tersurat sangat indah dan dalam, di rangkaian tulisan dalam VEDA dan Manawa Dharmasastra, dimana WANITA menikmati posisi TINGGI di rumah dan masyarakat. Bagi suami dan istri, Veda menyebut satu kata Dampati yang berarti menempatkan dua tuan dari satu rumah…

Lebih detailnya…

Yatra naryastu pujyante, ramante tatra devatah, yatraitastu na pujyante, sarwastatraphalah kriyah… (dimana wanita dihormati disanalah para dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala)…Manawa Dharmasastra III [56]

Socanti jamayo yatra, vinasyatyacu tatkulam, na socanti tu yatraita, wardhate taddhi sarvada…(dimana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu cepat akan hancur, tetapi dimana wanita itu tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia)…Manawa Dharmasastra III [57]

Samtusto bharyaya bharta, bhartra tathaiva ca, yaminneva kule nityam, kalyanam tatra vai dhruvam…(pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, maka kebahagiaan pasti akan kekal)…Manawa Dharmasastra III [60]

Tetap sadar…Sebagai wanita yang pintar dan waspada..Menikmati hidup yang penuh selama seratus tahun…Masukilah rumah ini sebagai RATU yang ideal, Semoga Sang Pencipta menganugrahi engkau usia yang panjang…Atharwa Veda [14/2/75]

Aku pengantin pria…Engkau pengantin wanita…Aku Kidung…dan engkau Syair… Aku Surga…dan engkau Bumi…Kita akan tinggal disini BERSAMA…menjadi orangtua bagi anak-anak…Atharwa Veda [14/2/71]

Tuhan, buatlah kami teguh..semoga semua melihat padaku..dengan mata bersahabat…Semoga aku melihat kepada semua..dengan mata bersahabat…Semoga semua melihat satu sama lain..dengan mata bersahabat…Yayur Veda [36/18]

Semoga meng-inspirasi…dan SELAMAT HARI IBU! *waduhh..sudah lewat ya*…

..Love and Home..

November 25th, 2007 by wayan

"LOVE will always help you find your way HOME…" wherever…whenever…

*Indonesian version: CINTA-kan Membawa-MU Kembalimenuai rindu, membasuh perih, bawa serta diri-MU, diri-MU yang dulu…melabuhkan rasa yang ada, mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu…merajut hasrat, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi*  …hhmmm…

*Tiba saat mengerti, jerit suara hati, yang letih meski mencoba, melabuhkan…rasa yang ada…mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu, temani aku…temani aku…merajut hasrat, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi…*

GOD, are U there? where is she?

…A Way Back into LOVE…

November 6th, 2007 by wayan

I’ve been hiding all my hopes and dreams away…
Just incase I ever need them again someday…

I’ve been setting aside time, to clear a little space in the corners of my mind…

I’ve been watching but the stars refuse to shine…
I’ve been searching but I just don’t see the signs…
I know that its out there…
There’s got to be something for my soul somewhere…

I’ve been looking for someone to shed some light…
Not just somebody to get me through the night…
I could use some direction, and I’m open to your suggestions…

…the miracle of synchrodestiny… for mind, body and spirit…

…we connect with everyone and everything in the universe, and recognize the spirit that unites us all…

[2nd Trilogy] Ketika Cinta Hadir…

May 25th, 2007 by wayan

Ketika Cinta Hadir Tanpa Syarat dan Sayap …

Seorang wanita cantik dan pintar bernama Vimega sangat mencintai pekerjaannya sebagai editor sebuah majalah. Hari-harinya dilewati dengan kerja keras untuk mengejar deadline (dateline apa deadline ya?) yang terus hadir mendekat, Rasa lelah dan lapar sama sekali tidak menyurutkan semangat tingginya untuk tetap bekerja. Justru rasa cinta yang demikian besarnya kepada pekerjaannya, mampu merangsang kreatifitas tinggi nya untuk menulis suatu majalah yang bagus, lengkap, enak dibaca dan indah untuk dilihat. Ini akan memberikan suatu kepuasan tersendiri, jika majalahnya bisa mendapat respon yang baik baik dari pembaca …

Apa sebenarnya “inspirasi” dari cerita ini? Apakah rasa cinta dalam keseharian pekerjaan membuat energi hidup ini indah dan mampu menghasilkan suatu enzim dan menjadi katalisator untuk proses pencapaian hasil yang sempurna…

Mungkin perputaran dunia ini didasarkan atas nama cinta. Cinta itu hadir dan sering membuat kita merasa gembira, sedih, muram, pahit, manis, dan juga kadang tertawa terbahak-bahak pada saat yang bersamaan. Dua malam yang lalu, dalam hari yang sama, 3 orang teman, menceritakan 3 hal yang berbeda dengan tema yang sama yaitu cinta. Teman pertama bilang bahwa dia sedang tidak mencintai pekerjaannya sekarang. Teman yang lain bercerita bahwa dia lagi berbunga-bunga karena sedang “pedekate” untuk mencari cinta seorang wanita yang baru dikenalnya 1 bulan yang lalu,. Dan teman terakhir sedang bersedih, karena baru mendapat telepon bahwa teman dekatnya SMA dulu, tiba-tiba terserang stroke dan akhirnya meninggal. Adakah penyikapan yang berbeda dari masing-masing teman ini, diakibatkan karena penyikapan terhadap cinta yang berbeda… ??

Sejak dahulu kala, katanya (karena waktu itu belum lahir) peradaban manusia diawali oleh adanya rasa cinta dua insan manusia, adam dan hawa. Mereka memilih menjalani hidup, “menikah” dan menjalani kehidupan dengan penuh cinta. Mungkin itu yang membuat kita semua ini ada sampai dengan sekarang…

Saat ini pun, kita memberi cinta kepada pasangan, membuat kita yakin untuk melangkah lebih jauh ke jenjang pernikahan. Sesudah menikah, kita membalas cinta kepada istri/suami, membuat kita mempunyai anak. Kita membagi cinta kepada keluarga (istri-anak) membuat kita bekerja. Kita mencintai pekerjaan membuat kita berusaha untuk bangun pagi dan bekerja keras sepanjang hari. Jadi secara tidak sadar setiap hari, setiap insan, dimanapun menjejakkan kakinya di lantai bumi ini, hidup sepanjang hari, bulan dan tahun, ternyata didasari atas nafas dan keringat cinta yang sama

Dimanakah cinta itu bersumber? atau apakah memang ada sumbernya?…

Sejatinya, mungkin cinta itu sudah ada dalam setiap insan mahluk hidup dari semua tingkatan. Mulai dari tumbuhan, semut, landak, burung, kucing, apalagi dengan mahluk paling sempurna yang kita kenal sebagai manusia, punya sesuatu yang namanya cinta. (mungkin ini pengecualian untuk virus flu burung, sapi gila, dengue, SAR dan HIV, dimana mereka sudah tidak punya rasa cinta sama sekali!!i). Tetapi mengapa kita sepertinya berat sekali untuk menggali dan berbicara dengan “si cinta” yang ada sangat dekat di dalam diri kita ya… tanyakeun apa?…WHY?…aku dan DIA satu adanya…DIA ada disetiap insan kok…

Cinta itu sama dengan bernafas, semuanya serba gratisssss…beratkah jika kita memberikan sesuatu yang kita memperolehnya secara gratis, dan hanya menyalurkannya kepada semua orang dengan gratis juga?… Kenapa kita selama ini banyak sekali pertimbangan dalam memberi cinta?? … (kecuali jika pemerintah mulai memberlakukan PPNC (Pajak Pertambahan Nilai karena Cinta), maka mungkin memberi cinta ini akan menjadi mahal dan sulit)…huehehe…

Jadi mumpung, pemerintah belum berpikir kearah itu, lebih baik kita mulai berbagi memberikan cinta ini kepada siapa saja, dimana saja, kapan saja, bisa mulai dari orang terdekat dalam rumah, tetangga depan rumah, teman sebelah ruanganl, tukang ojek, tukang parkir, petugas di lift, sopir, satpam atau janitor di gedung kantor…berbagi dengan siapa saja… Sekali lagi, ini gratisssss (kan katanya orang Indonesia senang apapun yang serba gratis J).

Kalau mau berbagi memberi cinta 1, 100, 1000, sejuta…gratis nya tetap banyak kok… tinggal ditebar saja… tanam dengan hati yang tulus… sedikit dipelihara dan disiram dengan air hati yang bersih… suatu saat nanti… yakinlah kita akan panen bunga-bunga cinta yang ternyata tidak kita sadari sudah tumbuh dimana-mana…sekali lagi…akan panen bunga-bunga cinta…!!

Kita sekarang mungkin sedang berjalan di hamparan taman rumput yang penuh bunga warna cinta. Dan seandainya cinta bisa masuk kedalam setiap hati manusia, mengetuk kesadaran hati, dan menusuk kedalam bilik-bilik penuh sekat dalam waktu sekecil dan ruang sesempit apapun, alangkah indahnya perjalanan hari ini … (ini kalimat sepertinya terlalu puitis, romantis, bombastis, fantantis, hiperbolis… ualahh…)

Ketulusan adalah dasar dari sebuah pemberian akan cinta

Pemberian yang dipenuhi dengan SYARAT-syarat akan mengikat dan itu bukan sebagai suatu pemberian, tetapi adalah suatu esensi dari transaksi jual beli…

Dan jika pemberian dipenuhi dengan SAYAP, maka dia akan mudah terbang dan merupakan titik awal akan adanya maksud dibalik pemberian cinta kita kepada siapapun…

Lepaskan dan bebaskan cinta itu hadir didepan mata dan hati kita tanpa syarat dan sayap. Biarkan dia bergerak dan menyapa dekat dengan keseharian kita, tanpa adanya suatu ikatan, tanpa sayap-sayap keinginan yang lain, diluar dari ketulusan akan kebutuhan akan perasaan cinta … sekali lagi ini gratiss … (tidak seperti klausul kredit bank yang penuh pasal ber-Syarat dan kata-kata hukum yang ber-Sayap)…

Pentaburan benih cinta dimana-mana ini akan terasa alamiah seperti air mengair, api menyala, angin bertiup, hujan turun, bunga mengembang, kumbang beterbangan, daun-daun berguguran,  bulan tersenyum, dan matahari bersinar… demikian… demikian… seterusnya tanpa henti dan tak terbatasi selalu menghampiri dan mewarnai perjalanan dunia ini…

Apa yang mendasari air, api, bunga, daun, bulan dan matahari seperti itu?… semua itu adalah atas dasar cinta mereka kepada dunia ini tanpa adanya embel-embel apapun -syarat ataupun pamrih… (coba bisa dibayangkan kalau suatu kali bulan dan matahari “ngambek dan pundung” terus besok sudah tidak mau terbit dan bersinar seterusnya??)maka hujan tidak turun, matahari tidak bersinar, tumbuhan tentu tidak bisa berfotosintesa, chlorophyll tidak ada, zea mays, oryza sativa tidak tumbuh, dan akhirnya… akhirnya tumbuhan dan hewan akan musnah…nah…nah…

Banyak pengalaman sejarah menceritakan dengan indah akan ketulusan cinta ini. Kita bisa memetik suatu gambaran pelajaran menumbuhkan cinta, dari ketulusan cintanya Einstein akan Relativitas, kenikmatan cinta Wright kepada Pesawat Terbang, penggambaran keindahan cinta sang Samaratungga – lewat Borobudur, khayalan cinta Da Vinci tentang Monalisa, Shakespeare-Romeo Juliet, J.K. Rowling-Harry Potter, dan banyak lagi penciptaan baru lahir dari cinta para masterpiece lainnya…yang dengan pencintaan penuh dan tulus dari dalam hati kepada penciptaan karya dan pekerjaan, menghasilkan suatu karya yang Maha Agung…

Tidak ada salahnya jika kita mencoba untuk menikmati harumnya, menghayati rasanya, dan merasakan semangat cinta para maestro ini dalam keseharian kita…mulai hari ini…

Cinta itu hanya membutuhkan sedikit ’pelukan’ sayang dan ’dekapan’ hangat dari dalam hati…

Jadi…masihkah hari ini kita akan berbagi dan menghadirkan CINTA dengan penuh Syarat dan Sayap kepada orang di sekitar kita… ??

WMB

-akhir Maret 2005

Seperti akang Backstreet Boys bilang… J

Reff: “…. I don’t care who you are… where you’re from… don’t care what you did… as long as you love me….” Halah…

[1st Trilogy] Ketika Bersyukur…

May 10th, 2007 by wayan

Catatan ini sebenarnya ditulis kurang lebih 4 tahun yang lalu ketika sedang bertugas di pulau Matak, sebuah pulau kecil di Kepulauan Natuna, Laut Cina Selatan… 

Tulisan ini adalah tulisan pertama, dari TRILOGY yang saya menyebutnya sebagai sebuah "perjalanan kesadaran cinta". Jika ketiga trilogy ini secara sederhana saja, bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari…niscaya kita akan merasakan aura kedamaian dan merasakan jernih dan indahnya perjalanan ini…cieee…

Trilogy perjalanan cinta dimulai dengan Bersyukur, -bagaimana kita mampu untuk menikmati kesempatan indah yang diberikan kepada setiap jiwa untuk mengerti akan pilihan tugas dalam hidup ini-, trilogy selanjutnya adalah Berbagi CINTA -bagaimana kita memaknai dan meresapi perjalanan setiap hari dengan penuh ketulusan hati dan mampu berbagi cinta ke-sesama- dan Trilogy terakhir adalah Bekerja -setiap insan yang dilahirkan kedunia ini, sejak awal telah diberkahi dengan fungsi yang maha suci. Jadi setiap orang -siapapun itu- akan "besar" dalam tugas nya masing-masing- 

Ketika Bersyukur Menjadi Sesuatu Yang Mewah …

 

Setiap saat dalam keseharian, kita dihadapkan untuk memilih dan memilah. Mulai dari pagi-pagi sekali  bangun tidur, kita sudah dihadapkan kepada pilihan untuk langsung bangun atau masih mau tidur lagi sesaat. Demikian pula mulai saat sarapan ada lagi pilihan untuk memilih sarapan apa? Roti, susu, juice atau hanya minum sekedar air putih. Berikutnya adalah pilihan untuk menentukan jalan mana yang akan kita lewati agar sampai di kantor tepat waktu. Demikian, demikian, dan demikian seterusnya pilihan-pilihan itu terus datang membanjiri dan bertambah dan akan selalu ada. Belum lagi pilihan dan pilahan kecil yang kadang-kadang luput karena sudah dikendalikan dan diatur otomatis oleh alam bawah sadar kita. Seperti memakai pakaian yang mana, sepatu yang bagaimana, mengunci pintu kamar, baca koran, dan sebagainya.

Kalau kita cermati sebenarnya, setiap saat kita dihadapkan dengan pilihan. Jadi kita sampai kepada umur atau situasi sekarang, sejatinya sudah cukup sering melakukan tindakan memilih ini, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Dan mungkin, yang biasanya selalu kita masih pikirkan atau diingat adalah sebenarnya nilai dan harapan yang ada dalam pikiran kita saat memilih tersebut. Dimana, ikatan akan nilai dan harapan itulah yang kadang mempunyai dampak terhadap diri kita sekarang maupun nanti. Ini yang membuat kita setiap hari kadang merasakan seperti mengalami kesialan atau ketidakmujuran. Padahal sebenarnya hal tersebut adalah sesuatu yang biasa saja, tergantung bagaimana kita memandang hasil dari pilihan tersebut. Sampai saat ini, belum ada mesin waktu yang bisa mengembalikan kita kepada situasi pada saat sebelum kita memilih, dengan harapan kita bisa merekayasa kembali desain keputusan pilihan tersebut, sehingga dampaknya menjadi lebih baik…barangkali?

Memilih bersyukur setiap saat sebelum dan setelah memilih mungkin merupakan sesuatu yang sangat mewah untuk dilakukan. Karena kita masih terbiasa dengan melihat segala sesuatunya berdasarkan prinsip kapitalisme. Dimana kita selalu membuat pertanyaan awal: apakah ini bermanfaat, dan apa untungnya buat pribadi. Dengan adanya maksud dan harapan, serta ikatan kepada pilihan tersebut, dan demikian lebarnya pertimbangan ini, maka kita otomatis dan secara tidak sadar mengikatkan diri kepada hasil pilihan itu. Dan akibatnya sadar atau tidak sadar kita selalu terbawa ke dalam keputusan yang telah diambil. Mungkin saat ini kita masih lebih sering untuk memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki atau butuhkan…

Mungkin lebih baik jika kita bisa sedikit bersyukur setiap saat, atas apa yang telah diberikan sampai saat ini. Sebab belum tentu besok juga, kita manusia masih diberikan untuk memilih lagi…

Maka manfaatkan kesempatan setiap pagi hari, sesaat setelah bangun, untuk bersyukur bahwa ternyata kita masih diberikan kesempatan untuk memilih dan memilah apa yang terbaik untuk diri kita, keluarga, dan masyarakat…

Jangan sia-siakan kesempatan memilih ini demi kebaikan, dan jangan terikat kepada pilihan itu, karena bukan kita yang membuat pilihan itu ada tetapi merupakan dampak akumulasi yang berturut-turut dari pilihan-pilihan sebelumnya yang telah kita buat di masa lalu…

Jadi nikmati pilihan ini dan bermainlah dengan pilihan tersebut dengan senang hati dan jujur, sebab di kemudian hari bisa kita bisa menikmati kembali pilihan-pilihan yang baru…

Percakapan dengan sang jiwa/hati akan memberikan penyadaran dan pengendalian diri, dan sering membawa keheningan kedamaian, dan ketentraman. Ia bisa mengubah wajah fisik maupun wajah kehidupan kita. Ia juga bisa menghindarkan diri dari jebakan hidup yang dipermainkan siklus naik-turun, suka-duka, dan jebakan sejenis. Dan untuk kemudian berangkulan dengan sang hidup sama mesranya dalam keadaan apapun… [GP]

Jadi bersyukur bukan merupakan sesuatu yang mewah khan seharusnya …. J

WMB

-Matak (Kepulauan Natuna), akhir tahun 2003-

[BeNak]…GURU Sejati…

May 8th, 2007 by wayan

Saya memanggil beliau ini dengan sebutan GURU. Beliau sebenarnya adalah seorang penulis senior beberapa buku dan cerita sejarah, dan menariknya beliau juga adalah seorang dokter yang bekerja di sebuah perusahaan minyak asing. Di usia yang sudah menginjak setengah abad, beliau dengan semangat tinggi masih ceria untuk bertugas 2 minggu penuh di suatu "anjungan lepas pantai" jauh di tengah laut Cina Selatan. 2 minggu berikutnya, beliau akan kembali ke ‘darat’ dan menikmati waktu libur selama 2 minggu…

Dalam banyak kesempatan saya selalu menyempatkan menulis email kepada beliau. Sekedar bertanya atau sekedar ingin berbagi kabar. Jujur, saya selalu merasa mendapatkan ‘pencerahan’ & ’kesadaran baru’ dari tulisan-tulisan dan insight-insight beliau yang begitu penuh arti dan sangat puitis…

Seperti saya pernah tulis, bahwa kita ini hanyalah seorang "messenger", maka setelah lama saya renungkan, akhirnya saya memberanikan diri dan berkeyakinan untuk membagi insight ’pribadi’ saya kedalam BELOG (alias bodoh) ini… why?? …mungkin saya baru akan tahu jawabannya nanti ‘kenapa…

Semoga ini bisa memberikan sedikit pencerahan kesadaran, akan beningnya hati didalam diri kita semua dan juga pentingnya kebersihan pikiran dalam menjalani hidup ini secara indah dan damai… GURU SEJATI itu sebenarnya adalah diri kita sendiri…

Selamat berbagi cinta…

—–Original Message—–

From: Soegianto (Dr.) Sent: Monday, April 23, 2007 9:34 AM To: -why

Dear Wayan,

Langkah telah Anda jejakkan, wahai Hrisikesa… hati telah Anda mantapkan, O Madhusudhana… telinga telah Anda lebarkan hai Gudakesa… dan sorot mata telah Anda pancarkan O Bhirnala…

Lalu kemana lagi… kemana lagi tujuan bagi Sang Athman… saat menyaksikan peperangan besar antara dua persaudaraan… yang telah tersisip indah dalam madah Bharatayudha… saat si buta bertanya pada adiknya…

"Dharmaksetre kurukshetra… samaveta yuyutsavah… mamakah pandava caivas… kim akuvata sanjaya?

Di medan perang dharma… di medan perang kuru… saat putera puteraku berhadap hadapan dg putera putera Pandu… apakah yang diperbuatnya O Sanjaya?

Maka dsg rendah hati kusampaikan, wahai Wayan saudaraku hadapilah kehidupan ini laksana bhirnala (Arjuna) yang telah mengangkat panahnya kembali setelah dg hampir berputus asa dia akan meninggalkan medan pertempuran… kecuali saat sang Madhusudana (Krishna) melantunkan Bhagawadgita dan didengar oleh jiwa sang Partha yang haus kebenaran…

Maka disini berani kukatakan… guru sejati adalah dirimu sendiri… yang kini menapak serta meretas hutan duri pengalaman hidup… menyakitkan dan menghanguskan semua harapan…

Tapi DIA… yang ada dalam dirimu… hormati lalu percayai sepenuhnya… karena disanalah… kebenaran sejati… bertahta… mengenakan mahkota cinta tak terkalahkan……………………………!!

Salam, Gnt.

(highly appreciated Anda punya Blog, excellent creative, itulah salah satu langkah nyata Anda yang percayalah, tak bisa dihentikan walau oleh kekuatan apapun)

—–Original Message—–

From: -why Sent: Monday, April 23, 2007 8:26 AM To: Soegianto (Dr.)

Selamat pagi GURU…

Nama yang sangat indah sekali ya…dengan makna yang sangat dalam…ckckckck…Jujur, apa yang dokter tulis di email dibawah benar sekali. Saya merasakan sesuatu yang memang begitu adanya… Saat saya baca, kok jadi merinding…

Memang kalau penulis yang handal, penuturannya akan sangat mengena dan menyentuh jiwa… mengena jauh didalam jiwa… mengingatkan kembali akan suatu kesadaran makna dan ”tugas” kita dalam pengembaraan hidup ini…terimakasih guru…

”Jadi apa langkah kita selanjutnya?”…

Kalau ada waktu, bisa mengunjungi ”Bale Bengong” saya di Blog: http://wayan.blogs.friendster.com/my_blog/ 

Belum banyak yang bisa ditulis…mohon masukan dari pakarnya nih… "Saya ingat sekali nasehat dokter, kira-kira 2 tahun yang lalu, di Lt. 29 Wisma BNI, yang menyemangati saya untuk berani…berani, dan selalu berani untuk menulis…inilah awal dari keinginan besar untuk selalu mencatat dan berbagi tentang apapun yang tiba2 dan sekelebat muncul dalam bayangan pikiran…

Selamat bekerja,

Salam buat ”PUTRI cahaya bulan percikan Ciwa yang keanggunannya memancarkan dharma kemenangan”…hehe

Suksma, WMB

—–Original Message—–

From: Soegianto (Dr.) Sent: Saturday, April 21, 2007 8:40 AM To: -why

Namanya: Sakala Indu Kirana Isyana Gunadharma Lakshmidara Wijaya Utunggadewi…

Artinya: Cahaya bulan percikan Ciwa yang keanggunannya memancarkan dharma kemenangan dihati setiap ratu/raja… dan percayalah: Andalah Ratu atau Raja yg sedang menerima pancaran itu…

Hakekatnya yang bersinar bukannya cahaya atau matahari … akan tetapi dalam Sarasamuccaya disebutkan Athman itulah yang bersinar… Tanpa Athman tak ada yang bersinar… Lalu kenapa paduka Tuan Mega harus merendahkan diri dengan mengatakan bahwa dia terlalu ketinggian…

Diatas Athman cuma ada Paramathman, Tuhan itu sendiri… Tak ada yang terlalu tinggi buat Athman atau manusia sejati… Anda tinggal membayangkan, mengharapkan lalu meminta dan diapun akan turun menghaturkan bhakti sebagai seorang Cakti (baca: isteri)…

Ayolah Wayan Mega Budiartha yang artinya kekuatan mahabesar yang dipenuhi oleh segala kekayaan budi baik…

Ayolah Wayan, angin musim semi menjelang tiba… aroma bunga padma bertiup dari pulau hatimu yang tak dikenal… Tak ada kayu apalagi sekedar kasta yang berani mencegatmu… Meskipun bersilang pedang dileher… Berkilat pisau didepan matamu…

Namun dharma seorang Mega… Melangkahi semuanya…kaurebut dia… Laksana Ciwa yang mengingatkan sang Dewa Cinta… dari mata tengahnya yang bersinar menembus… Melantunkan sebuah bait… kisah Smaradahana…

Ayolah Mega Budiartha! Kemenangan ada didepanmu!

Gnt.

—–Original Message—–

From: -why Sent: Friday, April 20, 2007 3:56 PM To: Soegianto (Dr.)

Dokter…kalau tidak salah ISYANA itu yang artinya CIWA ya ??

Suksma, Selamat berakhir pekan…

Salam, WMB

[BeNak]…Relaxing…

April 26th, 2007 by wayan

Quotes from Nancy Meyer’s film…The Holiday…

-New York Times…

"Severe stress makes women age prematurely, because stress causes DNA in our cells to shrink, until they can no longer replicate. So, when they’re stressed, they look haggard"

"The stress of it, all shows up on their faces, makin them/women look haggard…"

Ladies…so…please take time to RELAX and ENJOY your holiday… It would brighten up your faces, refreshing your skin, and shining your heart … ;-)

and Gentlemen…! Dont ever makes women around you feel stress…It would ruin the beauty of your life significantly…;-)

[BeNak]…HATI yang Bersyukur…

April 18th, 2007 by wayan

Seorang penekun Spiritual dengan sangat bijaksana pada suatu kesempatan menuturkan, "Selalulah memulai hari, dan membuka hati, dengan HATI yang BERSYUKUR"…

Dalam hati yang bersyukur, apapun yang kita makan akan terasa enak…apapun yang dilihat, terasa indah, apapun yang didengar, akan terasa nyaman…dan yang paling penting, kita sudah menikmati SURGA…sebelum kita dijemput kematian…

Dalam Hati yang Bersyukur, ada inner beauty, ada cahaya dari dalam, ada keindahan terpancar dari jiwa dan badan ini. Mata menjadi begitu bening, muka menjadi bercahaya, dan kulit ini menjadi halus dan cerah. Badan serasa menyinarkan suatu aura yang sangat positif. PRIA semakin ganteng…WANITA semakin cantik…Begitu menakjubkan…!!

Saudara dan sahabat sejati…Mulailah untuk bersyukur dari hari ini…disini senang…disana senang. Hidup ini penuh warna, begitu indah…SEMUANYA INDAH…Dendangkanlah ini setiap pagi, setiap kita akan memulai hari…

# "Disini senang, disana senang, dimana-mana HATIku senang…Disini senang, disana senang, dimana-mana HATIku senang… Lalalalalala..lalalalalalala… lalalalalalalala…lalalalala…# :-)

Sang Jiwa…dengarkanlah HATI dalam diri masing-masing…sadarilah keberadaannya jauh di dalam "bungkusan badan kasar" ini…

Niscaya kejernihan HATI dari dalam, akan memancarkan cahaya positif ke segala penjuru keseharian kita…

- wHy

Yang sangat bersyukur, bahwa hari ini masih diberi kesempatan untuk menikmati segelas SUSU hangat dan sepotong RISOLES…sambil memandang keluar gedung dengan langit sedikit mendung…tapi SEMUANYA INDAH ;-)

[BeNak]…Kebahagiaan…

April 2nd, 2007 by wayan

…hmmm…menurut saya…

"KEBAHAGIAAN itu sebenarnya adalah Keinginan/Harapan yang Terwujud… Kita ingin punya mobil, dan akhirnya tercapai, kita sebut "bahagia". Kita berharap dapat bonus dan tercapai…kita "bahagia". Pengen punya mobil Fortuner, tercapai, kita "bahagia"…pengen bulan ini naik gaji, dikabulkan, ya "bahagia" …demikian… demikian seterusnya sesuai dengan keinginan kita…

Maka nya setiap orang akan memiliki "tingkat kebahagiaan" yang berbeda-beda, karena keinginan yang "DIBUAT" nya juga berbeda-beda…

Jadi sejatinya, kita sangat bisa untuk mengontrol dan mengatur kebahagiaan kita masing-masing, dengan mengendalikan keinginan dan harapan itu… ;-) Jadi berhati-hatilah dalam merancang keinginan… ;-)

Have a gut day,